Perihal 2khutbah yang membuatku menyerah
Perihal 2khutbah yang membuatku menyerah
Sekiranya perlu aku mengundang senyum?
Tatkala mentari enyah berubah senja
Aku pun enggan menelisik rindu
Berat hati ku coba lakukan
Walau pada nyatanya kembali ,aku
Yang harus benar-benar mengalah
Terpuruk.....
Kembali engkau membuatnya begitu
Sungguh pun aku ingin pergi
Kemana?
Kedasar hati yang menganga?
Lagi dan lagi,harus terjadi padaku.
Diam,suasana
sunyi merajut mimpi kini aku selami.Bayangan tentang mu pun masih terngiang
dengan jelas.Aku benar-benar tak habis pikir.Kamu siapa?beraninya
mempermainkanku...!
*
* *
“Naya,Pergi
kuliah sendirian?”
“ya,bunda”.sambil
siap-siap memasang helm.
Kinaya
Almahbuba,perempuan dengan sejuta impian,sejuta senyum,ya,sejuta keramahan.
Ayah dan
bundanya adalah sang motivator terbaikdalam hidupnya.”hari-hati,nak!”.Bundanya
pun begitu menyayanginya anak semata wayangnya itu.”ya,bunda.Assalamualaikum!”.Naya
pergi menjauh,menuju tempat yang jaraknya agak jauh dari rumah orang
tuanya.dengan alsan ia ingin pergi kulian
*
* *
Guguran daun
kering terarak,tatkala angin sepoi-sepoi menyapu gelisah hati Naya yang saat
itu menanti seseorang yang mengajaknya bertemu di taman penuh kenangan itu.”kau
sungguh mencoba mempermainkanku”.berulang kali ia rutukkan kalimat itu dalam hati.”assalamualaikum,maaf
Nay,aku terlambat”.laki-laki dengan mata sayu itu akhirnya memecah keheningan.”oh,untuk
kesekian kalinya aku kembali mendengar kata-katamu,hingga aku sampai disini dan
kembali aku tak mengatakan apa-apa pada bundaku”.Naya mencoba menjelaskannya,namu
dengan nada yang terlampau meninggi”.ya,aku paham rasamu sebab ku,Nay...”ucap
kahfi.”kau benar-benar keras kepala,Kahfi!”.pertemuan yang begitu pilu,memutar
kembali ingatan 2 tahun lalu,saat mereka benar-benar tak direstui waktu,lalu berpisah
dengan perasaan yang ngilu.
*
* *
*flashBack*
“kaf,kata
bunda dan ayah pernikahan kita boleh tidak di gelar di rumah ku yang di
depok?”.kahfi membolehkan hal itu,walau ia memiliki keinginan ijab qabul di
pesantren yang pernah ia tempati dulu,namu,mertuanya yang sangat ia hormati
memiliki pendapat berbeda.”ya Nay aku akan katakan pada orang tuaku”.
Entahlah
waktu seakan begitu cepat berlalu,membawa sekelebat kabar bahagia pernikahan
Naya dan Kahfi.hari itu pun benar-benar datang,aroma bunga melati begitu
semerbak menguar dari segala penjuru rumah Naya.”bun benarkah langkah Naya ini
benar?”.terlihat ada rona kecemasan dalam raut wajah Naya yang entah dari mana
asalnya.”bismillah,nak....” bundanya benar-benar meyakinkan Naya.wajah cantik
yang telah dipoles menjadi ratu sehari semalam dengan balutan hijab nan indah
bersanding bersama munginya kantum-kantum melati itu seakan melengkapi hari
paling membahagiakan bagi Naya
* *
*
Latar
pernikahan yang begitu indah,bak negeri kayangan tapi,sepersian detik berubah
bak negeri bersimbah darah.kahfi dan keluarganya benar benar tak hadfi pada
acara pernikahan kabut hitam menggerogoti keindahn hari itu bagi Naya.Menyulam
sedih mengharu-pilu”.setega itu kau,Khaf...”.tak ada kalimat yang mampu naya
katakan walau hanya sebata sumpah seapah sebeb kepiluan.
Pernikahan
gagal tepat pada hari-h bukan perkara sepele hingga mampu diobati dengfan satu
kebahagiaan lain.hari demi hari berkabut dijalni Naya,monoton dan itu-itu
saja.ya Allah,adakah bahagia yang akan aku genggam setelah hari mencekam
ini?”.ujarnya dalam dian,walau hanya berbentuk monolog tapi berhasil air mata
lolos dari kelopak mata sayunya.
* *
*
“kejadian
dua tahun lalu itu,kau benar-benar lupa Kahfi?.dengan nada suara bergetra,mengundang
hasrat untuk menghapus air mata kekasihnya walay masa 2 tahun telah
lewat-itu.”tahukah engkau Nay,aku berjuang demi hari membahagiakan itu,tapi
Allah belum mengizinkan .”aku dan keluargaku mendapat musibah,rumah kami
kerampokan dan umi dan abiku menemui ajal dalam insiden itu,Nay!.Tersungkur
kala Kahfi menceritakan insiden naas yang menimpa diri dan keluarganya.”untung
aku masih diberi kesempatan kedua oleh Allah untuk melihat wajahmu,Nay”.
Masihlah
Kahfi dengan keteguhan yang ada,sebab cintanya begitu besar pada Naya.”Jika kau
mau,maafkanlah aku ,Nay....”.tak kuat untuk menjawab segala pertanyaan
Kahfi,Naya hanya mampu terisak,ia benar benar tak tau akan hal itu.”Tapi,kenapa
kamu tak memberitahuku,Khaf...!”.ujar Naya.”dengan cara apa Nay,sedangkan orang
tuaku meregang nyawa di tempat.lalu,setelah itu aku tak punya apa apa lagi dan
siapa siapa lagi lantas masih layakkah aku datang dan membawamu menjadi
istriku?,masih maukah kau denganku?.Rutukan kahfi berubah menjadi
penyesalan,dan kekecewaan,namun ia harus kecewa pada siapa?.maafkan
aku,kaf...”.Derai air mata Naya kembali tak terelakkan,sebab ia kembali merasa
bersalah setelah melihat orang yang selalu ia ingat dan hampir menjadi suaminya
tersungkur dengan air mata dipipi dan seskali sesegukan lolos dari bibirnya.
“bisakah
untuk sekarang aku kembali mengkhitbahmu,Nay...?.kahfi mencoba mengontrol
emosinya sedemikian rupa,menunggu jawaban dari Naya.”Kaf...bagaimana hukum
mengkhitbah perempuan yang sudah berada di atas khitbah orang lain?”.Tanya
Naya.”pertanyaan tidak bisa dijawab dengan pertanyaan Nay...!”.ujar Kahfi.”maaf
Kaf,aku sudah di khitbah orang lain 2 minggu yang lalu”.
Badai
kembali menimpa,membuat kapal itu kembali karam,dan untuk saat ini tak akan
pernah bisa muncul lagi ke permukaan .”ikhlaskan aku Kahf...”
S
E K I A N
Komentar
Posting Komentar